Story #77. Bapa, aku lelah.

Tuhan,

Apa salahku yang begitu besar hingga Kau tak kunjung mengabulkan doa ku tentang pasangan hidup?

Tuhan,

Betapa Engkau mencukupkan hidupku. Aku hidup tidak berkekurangan. Uang gajiku memang selalu numpang lewat saja, tapi sedikit2 kadang aku bisa mentraktir keluarga, ajak mama ke salon dan jalan2. Masih bisa berbagi, bersedekah. Makanku cukup. Kebutuhanku untuk berpenampilan pantas juga Kau cukupkan.

Tuhan,

Apa kiranya yang menghadangnya datang padaku? Bertahun2 ku berserah dan memohon pada Mu, supaya Engkau mempertemukan dan mempersatukan aku dengan pasangan hidup yang Engkau pilihkan untukku. Tapi dimana dia Kau sembunyikan? Berapa banyak lagi rintangan yang Kau sodorkan pada kami hingga kami belum bertemu? Berapa banyak lagi hati yang harus sakit dan patah? Berapa kali lagi harus kulalui kecewa dan putus asa?

Tuhan,

Hari ini aku sedih sekali. Ya, lagi-lagi bersedih. Tidakkah Kau iba padaku bahwa sedih yang sama ini seperti siklus yang selalu muncul setiap beberapa bulan? Apakah yang Engkau inginkan dalam hidupku, Tuhan? Bagaimanakah Engkau ingin aku terbentuk?

Bapa,

Kupanggil Kau seperti yang Kau ajarkan. Bukankah selama ini aku menurut padaMu? Bukankah selama ini aku mendengarMu? Atau bisikanMu terlalu lirih tak bisa mengalahkan jerit dan isak tangisku yang penuh putus asa?

Bapa,

Tidakkah mataMu melihat aku bersyukur untuk segala cobaan dan nikmat yang Kau beri? Betapapun aku terpuruk, betapapun mulut ku mengumpat memaki tapi berselang waktu, aku mensyukurinya, karena ku tahu Engkau baik, ku yakin dan ku tahu selalu ada hikmah dalam setiap cobaan. Tak perlu kusebutkan disini, karena setiap kali hikmah datang, hatiku berseri “I know that was You, Father.”

Bapa,

“Semoga Engkau berkenan mempertemukan dan mempersatukan aku dengan pasangan hidup yang telah Engkau siapkan bagiku. Persatukanlah kami dalam sakramen pernikahan kudus”. Tidakkah Kau mendengarnya, Bapa? Di setiap doaku. Dalam belasan mungkin puluhan tahun selama hidupku.

Bapa,

Engkau penciptaku, Engkau yang membentuk hatiku, sungguhkah Engkau membiarkannya hancur lagi dan lagi? Untuk hal yang sama.

Perihal Cinta,

Kapankah bisa kurasakan tulus dan benar?

Bapa,

Aku tidak memilih fisik tubuh seperti ini. Bukan tanpa susah payah aku menjaganya dari pria-pria yang cuma ingin “iseng” denganku. Aku tidak memilih berkecukupan materi, Engkau yang mencukupkan aku. Bukan mudah kudapat. Bukan perkara mudah juga ketika segala hal duniawi yang lekat padaku mengundang para adam sialan untuk “sekedar” bersamaku. Bapa, Terjadilah padaku menurut kehendakMu.

Bapa, sore ini aku merasa lelah sekali. Sangat lelah. Bolehkah dalam tidurku nanti Engkau usap kepalaku dan bisikkan padaku bahwa aku akan baik-baik saja?

I’m fine.

Advertisements

2 thoughts on “Story #77. Bapa, aku lelah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s